Yang Gaul Yang Berprestasi



Orang bilang, kalau tahun ini rambut kita tidak bermodel harajuku, maka kita bukan anak gaul. Kalau tidak pernah main counter strike atau jago memainkan si Lara Croft kita bukan anak gaul, bahkan kalau seumur-umur kita belum pernah menginjakkan kaki ke cafĂ©, diskotik atau pub, kita pastinya super kuper alias kurang pergaulan. Menjadi anak gaul seolah menjadi impian setiap anak remaja, rasanya kita begitu “aman” dan enjoy pergi kemana-mana jika kita punya label gaul, ke sekolah oke, ke mall asyik, beredar di jalanan pun tidak malu lagi.
Dalam lingkungan pergaulan remaja ABG, istilah “Anak Gaul” memberi kesan yang lebih mengarah pada hal negatif daripada hal positif, yaitu. Istilah ini menjadi sebuah ikon bagi dunia remaja masa kini yang ditandai dengan kumpul dengan geng, mondar-mandir di mal, memahami bahasa gaul, gaya fun, berpakaian serba ketat memamerkan lekuk tubuh, dan mempertontonkan bagian tubuhnya yang seksi. Sayangnya, banyak yang menafsirkan sosok anak gaul dengan tafsiran yang dangkal dan agak ganjil. Anak SD sekarang malu kalau belum merokok, disangka bukan anak gaul, anak SMP berlomba-lomba mengumpulkan koleksi artis-artis idolanya ala Linking Park, Greenday, dan lain-lain. Anak SMU merasa malu kalau masih jomblo dan tidak bisa menarik perhatian lawan jenisnya. Mahasiswa apalagi, banyak yang sudah tidak malu kalau tidak lagi perawan. Kalau anaknya hip-hip hura kemana-mana bawa ganknya, penampilan nyentrik dengan ponsel seri terbaru di tangan, ke kampus bawa kendaraan teranyar, itu anak gaul. Sebaliknya mereka yang tidak mengetahui dan tidak tertarik dengan hal yang disebutkan tadi, akan dinilai sebagai remaja yang tidak gaul dan kampungan. Akibatnya, remaja anak gaul inilah yang biasanya menjadi korban dari pergaulan bebas, di antaranya terjebak dalam narkoba dan perilaku seks bebas.
Apa benar anak gaul mesti punya ciri-ciri seperti diatas? coba kita lihat lagi kamus bahasa Indonesia kita, di sana jelas dikatakan bergaul artinya bercampur, berbaur, bermasyarakat.  Bahkan menurut kamus bahasa gaul sendiri, bergaul itu artinya supel alias pandai berteman, periang, cerdas, dan serba tahu info-info yang aktual, tajam dan terpercaya alias berwawasan luas. Jadi, tidak tepat kalau label anak gaul hanya diberikan kepada mereka-mereka yang punya puber, berpenampilan super, makannya burger tapi kerjaannya cuma mutar-mutar.
Setiap orang - terlebih remajanya - memang harus gaul. Sebab kita adalah 'mahluk gaul'. Dalam istilah sosiologi, Aristoteles menyebutnya zoon politicon ('hewan gaul'  atau lebih tepat diartikan sebagai 'mahluk gaul'). Bergaul, intinya, harus berhati-hati karena tidak setiap gaul itu baik. Jangan lantaran takut disebut kuper atau tidak gaul, kita lalu kebablasan dan tidak selektif dalam bergaul. Sebab, ada saja yang terjerumus ke hal-hal negatif bahkan menyesatkan akibat salah gaul. Entah karena faktor ikut-ikutan (imitasi), kena pengaruh (sugesti), keliru mengidentifikasi, atau karena faktor lainnya. Oleh karena itu, alasan moral (moral reasoning) harus senantiasa melandasi setiap sikap dan perilaku.
Hasil riset membuktikan hampir 70% pecandu mulai memakai narkoba karena coba-coba dan mayoritas remaja menjadi korban narkoba, hal ini dikarenakan remaja merupakan masa transisi sosial (Hurlock, 1972). Remaja berada dalam tahap pencarian identitas, jadi rasa ingin tahu yang ada dalam diri para remaja atau ABG sangat tinggi. Ketidaktahuan akan bahaya narkoba dan kurangnya pendidikan pencegahan (drug prevention) bisa menyebabkan mereka tergoda untuk mencoba zat beracun dan berbahaya. Apalagi dengan iming-iming teman, kalau narkoba itu nikmat dan juga dianggap sebagai lambang anak gaul. Pada masa transisi sosial ini terjadi perubahan tanggung jawab, hak dan kewajiban, serta kepatuhan dalam interaksinya dengan orang lain, yang kemudian memacu terjadinya perubahan sikap terhadap pribadi, orang tua maupun kelompoknya. Perubahan ini kemudian sering mengakibatkan timbulnya konflik dan krisis identitas dalam diri seorang remaja. Pada masa inilah remaja cenderung mudah terpengaruh oleh lingkungannya.
Dengan tingkat keingintahuan akan diri dan lingkungannya begitu besar tetapi kurang disertai dengan pertimbangan yang mendalam, mereka pun cenderung lebih suka berkelompok dengan teman sebaya dan sering mudah terpengaruh oleh pergaulan.[1] Maka tak heran bila ada sebagian orang yang terkesan ‘ikut-ikutan’ akan sesuatu hal, yang menurut pendapat mereka adalah sesuatu hal yang keren akan tetapi belum tentu baik untuk mereka. Salah satunya adalah persepsi yang salah mengenai narkoba, anak remaja sekarang banyak yang mengganggap bahwa memakai narkoba adalah suatu yang trendi atau biasa dalam pergaulan. Padahal hal tersebut dapat menghancurkan masa depan mereka, bahkan dapat mencabut nyawa mereka.
Hurlock (1996) mengatakan bahwa meskipun tidak bersifat universal, penggunaan obat-obat terlarang merupakan kegiatan ‘klik’ dan kegiatan pesta yang popular, yang dimulai pada masa awal remaja. Banyak remaja mencoba obat-obat ini karena ‘harus mencoba’ meskipun beberapa saat kemudian menjadi kecanduan.”[2] Makanya, jangan sempat berpikir, “mencoba sekali pasti tidak ada pengaruhnya.” Pikiran semacam ini bisa mencelakakan diri kita sendiri. Banyak fakta yang membuktikan kalo yang sekadar coba-coba itu akhirnya kebablasan jadi kecanduan. Masa remaja juga ditandai oleh kekompakan, kesetiaan, kepatuhan dan solidaritas tinggi terhadap kelompok sebaya, mengalahkan kepatuhan terhadap orang tua dan gurunya.[3] Kekompakan, kesetiaan dan kepatuhan remaja terhadap kelompok sebaya sebenarnya merupakan hal yang positif bagi pengembangan kepribadian, penemuan identitas diri, pengakuan, penerimaan serta pengembangan kepekaan dan keterampilan sosialnya, bila kelompok sebaya yang dimasukinya kelompok sebaya yang baik, tetapi bila kelompok sebaya yang dimasukinya adalah kelompok sebaya yang tidak baik, maka akan melibatkan remaja kepada tindak kekerasan, perkelahian, tawuran, dan penyalahgunaan narkoba.[4]
Berkembangnya jumlah pecandu narkoba ditentukan oleh dua faktor[5], yaitu faktor dari dalam (internal) dan faktor dari luar diri sendiri (eksternal).  Faktor penentu dalam diri adalah: (1) minat, (2) rasa ingin tahu (curiousity) (Hurlock, 1978), (3) lemahnya rasa ketuhanan (Abu Hanifah, 1989), dan (4) ketakstabilan emosi (Duke and Norwicki, 1979).  Sedangkan, faktor-faktor yang berasal dari luar diri sendiri adalah: (1) gangguan psikososial keluarga (Sofyan S. Willis, 1995),  (2) lemahnya hukum terhadap pengedar dan pengguna narkoba, (3) lemahnya sistem sekolah termasuk bimbingan dan konseling (BK), serta yang terpenting (4) lemahnya pendidikan agama para siswa sekolah (Sofyan S.Willis, 2001). Sedangkan faktor yang menyebabkan adanya kerawanan dalam penyalahgunaan narkoba, yaitu : faktor Demografi, faktor geografi, faktor ketersediaan, dan faktor penegakan hukum.[6]
Godaan untuk mencoba narkoba memang semakin gencar belakangan ini. Peredaran narkoba sudah menyebar kemana-mana, tidak hanya di tempat-tempat hiburan bahkan disekolah dan lingkungan perumahan. Anggapan narkoba sebagai bagian dari kehidupan anak gaul, perlu kita buang jauh-jauh. Itu bohong! Tidak semua anak gaul memakai narkoba. Memang banyak yang sudah terjerat cuma karena ingin dikatakan anak gaul. Tapi percayalah, itu lebih karena kebodohan mereka. Toleransi terhadap teman yang sudah menjadi pecandu pun harus kita batasi. Awalnya, kita boleh yakin kalau kita tidak akan terpengaruh. Tapi, kita tidak pernah tahu suatu hari, di saat kita sedang mengalami masalah, melihat teman kita ‘makai’ akhirnya kita tergoda untuk mencari suasana yang benar-benar bebas dari aroma narkoba di saat sekarang ini. Kita juga tidak harus mengurung diri di rumah agar terlepas dari jerat narkoba. Cara jitu dan dijamin pasti ampuh adalah memproteksi diri dan menguatkan tekad agar jangan pernah mencoba narkoba.
Ada beberapa hal yang dapat kamu lakukan agar terhindar dari godaan Narkoba. Pertama, kuasai informasi. Filsafat modern mengatakan siapa yang menguasai informasi dialah yang menguasai dunia. Ingatlah di dunia ini hanya ada dua pilihan, dipengaruhi atau mempengaruhi. Jadilah “bank info” yang serba tahu dan jangan pernah ketinggalan berita-berita terkini dan tercanggih, sehingga kalau teman-teman kamu butuh informasi tentang sesuatu, pastikan bertanya sama kamu dan mendapat jawaban yang memuaskan. Dapatkan dulu informasi tentang bahaya narkoba dari koran majalah, seminar dan lain-lain. Jangan kalah dengan mereka yang otaknya dijejali dengan menghapal seleb-seleb yang sama zodiaknya, lagu-lagu teranyar yang dirilis boys-band favoritnya. Tidak ada yang orang yang berani ngecap kuper untuk orang yang punya pengetahuan segudang. Tapi ingat, tidak semua yang kita tahu harus kita lakoni. Kedua, harus ada nilai plus kesalehan. Salah satu indikator dari kesalehan adalah baik budi pekerti/akhlak, apapun agamanya. Tidak pernah ada cerita orang yang benci dengan orang yang shaleh. Anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua, semuanya suka anak yang berbudi pekerti baik. Dalam agama Islam, ketika Rasulullah ditanya oleh para sahabat, siapakah yang di antara hamba Allah yang paling dicintai Allah, beliau menjawab, “Yang terbaik budi pekertinya”. (At-Thabrani).
Ketiga, milikilah sahabat sejati. Sebuah hikmah menyatakan manusia itu ibarat satu sayap yang tidak dapat terbang tanpa sayap yang satunya, dan di sanalah peranan seorang teman sejati yang mengokohkan kita saat kita oleng, yang mengingatkan kita di saat kita khilaf, yang menuntun kita saat kita buta. Teman sejati inilah yang tidak dimiliki oleh anak-anak gaul yang meninggal dengan tragis akibat over dosis karena obat yang diberikan “sohib” karibnya. Teman sejati juga tidak dapat dimiliki dalam kehidupan tak bernorma ala homo homini lupus, siapa yang kuat dia yang dapat, ambil kesempatan urusan belakangan, sehingga timbullah makhluk-makhluk selingkuh, khianat dan munafik. Itulah akibatnya kalo kita salah pilih teman kepercayaan, kita merasa ditusuk dari belakang, sakit sekali dan di akhirat kita bisa gigit jari.
Keempat, berlakulah seperti ikan di laut yang hidup di air asin tapi tubuhnya tidak berasa asin. Jangan menutup diri, berbaurlah, tapi jangan lebur. Selain itu, persiapkan diri/mental untuk menolak kalau ditawarkan barang haram ini. Pokoknya kita mesti bertekad untuk menolak dulu. Belajar berkata "Tidak" kalau mendapat tawaran narkoba. Siapkan juga alasan yang bisa dipakai, dari yang lucu sampai yang serem atau alihkan topik pembicaran kalau kamu mulai disudutkan dengan tawaran. Kalau teman kamu terus memaksa juga, segera tinggalkan tempat itu. Kalau perlu cari teman baru yang ketahuan bersih. Teman yang baik jelas tidak akan memaksa kamu memakai narkoba. Miliki cita-cita dalam hidup ini, sehingga hidupmu memiliki tujuan dan lakukan kegiatan positif yang dapat menolong kamu untuk lebih mandiri, lebih percaya diri, selain itu juga untuk menyalurkan hobby, bakat dan siapa tahu bisa berprestasi dan bermanfaat bagi masyarakat banyak.
Semua orang punya motivasi. Dorongan dalam diri kita yang mengarahkan perilaku. Motivasi menjadi energi kita untuk menyukai dan membenci suatu kegiatan. Ini bergantung pada jenis motivasi yang berperan dalam diri kita. Psikolog David McClelland mengemukakan bahwa ada tiga macam motivasi yang mempengaruhi kita: motivasi afiliasi, motivasi berkuasa, dan motivasi berprestasi.
Motivasi afiliasi sama dengan kebutuhan kita untuk bergaul. Kalau kadar motivasi afiliasi tinggi, artinya kita selalu berusaha menjaga hubungan baik pertemanan. Selain itu, kita biasanya suka punya teman banyak, ramah, dan senang bertemu dengan orang-orang baru. Sementara motivasi berkuasa adalah keinginan kita mengatur orang atau institusi tertentu. Motivasi ketiga dan yang paling berpengaruh pada kinerja kita adalah motivasi berprestasi atau need for achievement. Kita yang punya need for achievement yang tinggi cenderung punya banyak prestasi. Ini dapat membuat kita dipandang hebat oleh orang-orang di sekeliling kita karena kita punya kemauan keras untuk maju dan jadi yang terbaik. Need for achievement ini tidak hanya tercermin dari pelajaran di sekolah, tapi juga di bidang seni, olahraga atau aktif dalam berbagai kegiatan sosial salah satunya pencegahan narkoba di kalangan remaja.
Masalah penyalahgunaan narkotika menjadi masalah yang serius dan membutuhkan penanganan yang terpadu dari pihak-pihak yang terkait. Lembaga-lembaga pendidikan dari tingkat TK sampai dengan Perguruan Tinggi merupakan wadah yang peranannya penting sekali dalam memerangi penyalahgunaan narkoba. Karena sekolah adalah tempat generasi muda dibina untuk melahirkan calon-calon pemimpin masa depan dan disisi lain merupakan tempat yang potensial untuk dijadikan tempat pengedaran narkoba, sehingga dibutuhkan kewaspadaan dari para pendidik juga kewaspadaan dari remaja itu sendiri.
Remaja yang menentukan pelaksanaan usaha penanggulangan bahaya narkoba sudah menyadari keadaannya, maka masalahnya kini bergantung pada kelompok remaja sendiri untuk mengambil sikap dan tekad untuk berpartisipasi bersama pemerintah dan masyarakat dalam memerangi bahaya narkoba. Jika remaja merasa bertanggung jawab dalam menyelamatkan kaum remaja dari bahaya narkoba dan secara aktif ikut berpartisipasi dengan potensi yang mereka miliki, maka upaya penanggulangan penyalahgunaan narkoba akan semakin efektif.[7] Dalam upaya penanggulangan penyalahgunaan narkoba, remaja dapat berperan khusus dalam hal memberikan penerangan-penerangan, mengajak remaja lain yang sadar dan bertanggung jawab untuk ikut berpartisipasi dalam penanggulangan penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja sendiri. Remaja harus sadar dan bertanggung jawab bahwa dirinya mengemban tugas sebagai warga negara yang wajib melakukan usaha pembelaan negara juga dalam menghadapi penalahgunaan narkotika, sebagai salah satu “penyakit” masyarakat yang dapat membahayakan keselamatan negara dan kelangsungan generasi.
Sebenarnya tidak sulit untuk menjadi anak gaul, yang terpenting adalah mengenal dan menjadi diri sendiri. Hidup itu dinamis, bukan statis dan peradaban manusia selalu berkembang. Mari kita ubah persepsi tentang anak gaul. Anak gaul bukan lagi anak-anak yang bisanya hanya menghabiskan tenaga, waktu dan uang orang tua untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Tetapi, anak gaul adalah anak-anak muda yang kreatif, berprestasi, mandiri, berwawasan luas, aktif dan peduli dengan lingkungannya dan kondisi masyarakat.

IDENTITAS

NAMA            : HUSNUL KHATIMAH
TTL                 : KETAPANG, 17 JUNI 1985
NO. KTP         : 14.5002.570685.0001
ALAMAT       : KOMPLEK UNTAN JL. M. SYAFEI NO. P34 A PONTIANAK
NO. TELP       : 081399018848
E-MAIL          : F_KHAIRAT@YAHOO.COM




[1]. Selebaran yang dikeluarkan oleh dinas kesehatan kota Bogor, “Remaja dan Seks Pra Nikah”, 2003
[2] Cecep Sulaeman, Pengaruh Kelompok Teman Sebaya Sesama Klien/Residen Pada Remaja Penyalahguna Napza dalam Menunjang Proses Pemulihan, tesis, 2004
[3] Selebaran yang dikeluarkan oleh dinas kesehatan kota Bogor, “Remaja dan Seks Pra Nikah”, 2003
[4] Ibid.
[5] http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/37/konseling_terpadu.htm
[6] Badan Narkotika Nasional, Op Cit, p. 31-36
[7] Narkotika dan Remaja, DR. Soedjono D., S.H. Penerbit Alumni, Bandung, 1973 hlm. 119

Comments

Popular Posts