Buah Tangan Dari Jerman
Pergi berlayar ke tanjung pinang
Sang Nakhoda dalam Sekoci
Jika tak kenal maka tak sayang
Perkenankan saya mengenalkan diri
Pantun diatas mengantarkan anda para pembaca untuk lebih mengenal
siapa saya. Husnul Khatimah nama yang diberikan pada orang tua untuk saya,
seorang gadis berusia 22 tahun. Saya lahir sebagai anak ke 2 dari 3 bersaudara
dari pasangan (Alm) Drs. H. M. Syafei Rifai dan Hj. Minarni, orang tua yang
selalu mendukung saya untuk maju dan melakukan hal-hal yang bermanfaat.
Pada Agustus 2007 lalu, saya telah menyelesaikan pendidikan sarjana
dari Universitas Indonesia dengan mengambil konsentrasi Kriminologi, jurusan
dengan akreditasi A yang tidak begitu popular di masyarakat sebelum (atau
bahkan sesudah) kasus Pak Mulyana. Pembaca perlu tahu bahwa jurusan ini sudah
ada sejak tahun 1962 dibawah naungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI.
Dari namanya saja, pembaca mungkin sudah dapat meraba bidang ilmu yang saya
dalami. Ya… seputar kejahatan, penjahat, korban kejahatan dan reaksi masyarakat
akan kejahatan. Penjara, kantor Polisi, pusat rehabilitasi, sampai tempat
prostitusi pernah saya datangi demi kepentingan akademik.
Segala bentuk kejahatan, analisa serta bagaimana mencegah kejahatan
saya pelajari, dari mulai kejahatan politik, kejahatan dalam sebuah proses
pembangunan, kenakalan anak, KDRT, gender, sampai dengan kejahatan lingkungan.
Saya memberi perhatian lebih di bidang kejahatan lingkungan, karena saya sadari
bahwa saya anak rantau dari pulau yang terkenal dengan hutannya. Hutan yang
menjadi paru-paru dunia saat ini sedang terserang kanker illegal logging akut
di setiap sudutnya.
Hal inilah yang membawa saya terbang ke Jerman, sebuah negeri di
belahan dunia lain dari tempat yang kita duduki sekarang. Sebagai sebuah
kesempatan emas untuk terus belajar, menemukan inspirasi dan mengekspresikan
diri seiing dengan pembangunan negeri.
Saya mendapat kesempatan ke Jerman sebagai salah satu (dari 4 orang)
Duta Lingkungan Hidup Bayer 2007 atau Bayer Young Environmental Envoy 2007
(BYEE 07). Dalam kegiatan ini setiap peserta diwajibkan untuk membuat sebuah
proposal kegiatan yang bersifat individu terkait lingkungan hidup yang akan
diseleksi secara administrative oleh panitia. Terdapat 117 proposal kegiatan
yang sangat inovatif dari seluruh penjuru nusantara yang siap untuk
diaplikasikan. Kemudian proposal ini diseleksi menjadi 30 besar untuk
dipresentasikan dan “digali” kemanfaatannnya oleh tim seleksi I dalam bahasa
Inggris. Dari 30 proposal terpilihlah 15 proposal kegiatan yang dinilai layak
untuk dilaksanakan yang kemudian diseleksi kembali lebih ketat, sehingga
terpilih 4 orang mahasiswa yang dianggap layak untuk mempresentasikan kegiatan
yang dilakukannya di hadapan publik internasional.
Perjalanan menuju Jerman merupakan perjalanan yang cukup panjang
bagi saya. Pengumuman kegiatan ini saya terima dalam perjalanan ke Balikpapan
dalam rangka pemilihan Duta Lingkungan Hidup Tingkat Regional Kalimantan 2007.
Seorang teman mengabarkan lewat sms mengenai kegiatan BYEE 07, awalnya saya
tidak begitu tertarik dengan BYEE 07 karena padatnya rangkaian kegiatan
pemilihan Duta LH tk. Regional. Di sisi lain saya tertantang untuk melakukan
hal yang baru dan kongkret di bidang LH.
Dengan Bismillah, perlahan tapi pasti saya membuat proposal yang
harus berbahasa Inggris itu di sela kegiatan di Balikpapan, meski dengan itu
waktu tidur saya harus tersita beberapa jam untuk memikirkan ide kegiatan apa
yang bisa saya rancang dan jalankan dengan tidak mengabaikan coretan tinta
merah dalam buku agenda saya tentang batas waktu skripsi yang semakin dekat dan
persiapan presentasi makalah di Thailand setelah kegiatan di Balikpapan. Alhamdulillah,
untuk pemilihan Duta LH tk. Regional saya mendapatkan posisi ke III, tidak
terlalu buruk untuk orang yang baru terjun di dunia panggung pemilihan seperti
saya. Sepulang dari Balikpapan saya harus segera ke Mempawah untuk penobatan
Duta LH kab. Pontianak 2007 dan kembali lagi ke Jakarta untuk mengirimkan
proposal kegiatan BYEE 07 seiring melanjutkan penelitian skripsi tentang narkoba
dan presentasi makalah di Thailand.
Waktu terus berjalan hingga pada hari itu saya dihubungi oleh pihak
Bayer Indonesia bahwa saya terpilih menjadi 30 besar finalis yang harus
presentasi dan wawancara di hadapan tim juri dalam bahasa Inggris. Wawancara
tersebut tepat 1 jam setelah saya bertempur dalam sidang skripsi. Jujur saja
saya tidak mempersiapkan apapun untuk presentasi dan wawancara waktu itu,
karena saya memfokuskan diri ke sidang skripsi dan presentasi di Thailand.
Seminggu kemudian saya kembali dihubungi oleh pihak Bayer yang mengabarkan saya
masuk ke dalam 15 besar finalis yang harus mengaplikasikan proposal kegiatan
yang diajukan sebelumnya dalam waktu 6 minggu.
Pembaca mungkin bertanya-tanya kegiatan apa yang telah membawa saya
terbang jauh ke negeri Hitler itu. Kegiatan saya berjudul “Environmental Puppet
Show” atau dongeng tentang lingkungan hidup. Saya terinspirasi dari kekuatan
dongeng sebagai alat komunikasi nilai dan budaya antar generasi, meski hanya dongeng
sebelum tidur. Dongeng sebelum tidur pun nyaris punah, karena semakin hari
kebiasaan mendongengkan anak sebelum tidur semakin jarang dilakukan oleh orang
tua jaman sekarang. Kesibukan membuat orang tua tak lagi sempat menyediakan
waktu bagi anaknya untuk menyampaikan cerita-cerita ringan yang sarat nilai dan
budaya ke anaknya dan diperkuat oleh gempuran media yang semakin canggih
sehingga manusia pasrah terhadap sajian media apapun bentuknya.
Dalam proposal kegiatan ini saya menitikberatkan pada pentingnya
pendidikan lingkungan hidup bagi generasi muda khususnya anak-anak. Perlu kita
ingat bahwa dalam kurun 10 – 20 tahun ke depan anak lah yang akan menjadi motor
penggerak pembangunan. Jika dari dini mereka tidak mengenal betapa pentingnya menjaga
lingkungan hidup, maka pembangunan di masa yang akan dating tidak akan pernah
memperhatikan aspek kelestarian lingkungan, dan lingkungan akan semakin rusak
karenanya. Dalam menginformasikan mengenai lingkungan hidup dan permasalahannya
yang sangat kompleks bagi anak-anak saya mencoba untuk menggunakan sarana
dongeng untuk memasukkan unsur pendidikan lingkungan hidup tanpa
mengesampingkan dunia anak yang penuh imajinasi.
Dalam kegiatan ini saya mendongeng di sekolah-sekolah di Kota
Pontianak dengan target satu sekolah dalam setiap jenjang pendidikan dan dongeng
on air di radio RRI Pro 1 dalam segmen cerita anak. Saya melakukan kegiatan ini
dalam dua minggu. Minggu pertama saya masih di Jakarta, saya meminta bantuan
teman saya untuk memasukkan proposal kegiatan ke RRI Pro 1 Pontianak. Minggu
kedua saya mulai melaksanakan dongeng lingkungan ke sekolah-sekolah dan
mendapat dua kali kesempatan siaran on air di radio. Kegiatan ini pun saya laksanakan
disela kegiatan pemilihan Duta LH Kalbar 2007 dimana saya dan teman-teman Duta
LH 2006 menjadi panitia yang diperbantukan dalam acara tersebut.
Sekolah yang saya pilih antara lain : TK Primanda Untan, SDN 27 dan
SMU Taruna Bumi Khatulistiwa. Saya bersyukur mendapatkan momen awal tahun
ajaran sehingga murid masih fresh setelah liburan sekolah. Untuk cerita dongeng
di radio saya mengambil cerita berjudul Lintang di Negeri Kayu dan Mewarnai
Negeri Mimpi.
Cerita pertama berkisah tentang seorang anak yang cerdas dan pemberani
yang bernama Lintang. Lintang bertualang ke negeri kayu dan bertemu dengan Si
Pinsil Merah yang sedang marah, marah karena semua anak-anak di bumi
menyianyiakan pensil. Pensil diraut dan setelah tidak begitu panjang dibuang.
Pinsil Merah menyayangkan hal itu karena pensil terbuat dari kayu sedangkan
hutan semakin sedikit, sehingga keberadaan pensil dan teman-temannya terancam.
Pensil Merah mengancam akan pergi dari bumi jika anak-anak di bumi masih
melakukan hal tersebut. Lintang menahan keinginan Si Pensil Merah dan
teman-temannya. Namun karena anak-anak di Bumi masih menyianyiakan pensil,
Pensil Merah dan teman-teman pensilnya melarikan
diri dari bumi dan kembali ke negeri kayu. Anak-anak di Bumi gempar dan
bersedih karena kehilangan pensil-pensil mereka. Lintang meminta Pensil Merah
dan teman-temannya kembali ke Bumi tapi Pensil Merah menolak ajakan Lintang
sebelum anak-anak di Bumi mau berubah. Akhirnya Lintang mengajak anak-anak di
Bumi untuk menanam pohon dan tidak lagi menyianyiakan pensil. Dari negeri kayu
Pensil Merah melihat anak-anak di Bumi beramai-ramai menanam pohon dan merubah
sikap mereka. Akhirnya Pensil Merah dan pensil-pensil lainnya kembali ke Bumi
dan anak-anak di bumi bahagia.
Untuk kegiatan di TK Primanda saya mengambil tema Polusi Udara, tema
ini diambil karena TK Primanda terletak di tengah kota, sehingga adalah hal
yang penting untuk mengenalkan anak-anak sejak dini tentang polusi udara. Saya
tidak sendiri, karena ditemani sebuah boneka bernama Kundil yang saya jadikan
media komunikasi antara saya dan anak-anak. Pemilihan nama Kundil bukan tanpa
alasan, saya menggunakan pendekatan teman sebaya sehingga info yang disampaikan
bersifat “friend to friend” bukan dari orang dewasa kepada anak-anak. Anak-anak
lebih banyak berdialog dengan Kundil yang dapat berbicara (dengan suara samping
saya) dengan mereka.
Dibuka dengan menyanyi bersama lagu “Kebunku” yang dikaitkan dengan
ada atau tidaknya kebun di rumah anak-anak, jika ada tanaman apa saja yang ada
di kebun mereka, apa yang mereka rasakan jika berada di bawah pohon, jika
dibandingkan dengan ketika mereka sedanga berjalan di jalanan. Selanjutnya saya
dan kundil bercerita tentang nasib udara di bumi. Bahwa udara yang ada di
jalanan kotor daripada udara yang ada di bawah pohon. Kotor karena asap
kendaraan yang banyak di jalanan. Jika udara ingin bersih maka perbanyak
pohon-pohon atau tanaman di sekitar kita. Feed back yang saya terima dari anak
TK ini sangat baik, saya mendapatkan pertanyaan kritis dari seorang anak-anak
yang kurang lebih bertanya “Kalau pakai motor bisa bikin udara kotor, jadi saya
sekolah pake apa kak? Kalau pake sepeda kan jauh, nanti terlambat ke
sekolah!...” Saya menanggapi pertanyaan ini dengan senyum dan berkata “Kalian
bisa tetap berangkat sekolah dengan motor, nah … supaya udaranya tetap bersih
kalian harus punya banyak pohon di rumah.”Anak-anak lebih memberi perhatian
ketika Kundil yang berbicara. Untuk menyampaikan hal ini terlihat memang mudah,
namun ada tantangan tersendiri untuk mendapatkan perhatian dari anak-anak TK
ini untuk tetap menyimak cerita yang kita sampaikan. Perhatian mereka yang
sangat mudah beralih kepada yang lain dan mudah merasa bosan membuat saya harus
selalu mengkolaborasikan kegiatan ini dengan porsi permainan dan menyanyi yang
lebih besar. Info mengenai polusi udara juga harus disampaikan dengan sederhana
mungkin sehingga mereka bisa menerima nya dengan baik.
Lain halnya di SDN 27 yang berada 10 meter dari sungai kebanggaan
orang pontianak, Sungai Kapuas. Tema yang saya ambil adalah tentang kebersihan
sungai. Di SDN 27 ini saya cukup terbantu dengan fasilitas multi media yang
tersedia di sekolah. Saya mulai dengan perkenalan, games dan cerita mengenai
sungai dan manfaatnya bagi kehidupan masyarakat dari dulu hingga sekarang. Tema
ini diangkat untuk menyinggung ingatan anak terhadap terhadap kebersihan sungai
yang menjadi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari, karena sebagian besar
dari anak sekolah tinggal di sepanjang sungai. Anak-anak tak kalah kritis
dengan orang-orang dewasa. Jika di TK saya “dibantai” dengan pertanyaan polos
mereka maka anak-anak di SDN 27 lebih “sadis” lagi, pertanyaan yang diajukan kepada
saya lebih bersifat meminta solusi yang sederhana, efektif dan bermanfaat. Mereka
berkata “Kalau di rumah saja semua orang buang sampah ke sungai, gimana saya
kasi tau ke mereka buat nggak buang sampah ke sungai?” Pertanyaan yang menurut
saya sangat berpengaruh pada perubahan tingkah laku anak-anak bila saja kita
dapat memberikan jawaban bukan sekedar perkataan tapi jawaban tingkah laku
untuk menyelesaikan masalah kebersihan sungai.
Kegiatan yang terakhir saya lakukan adalah ke SMU Taruna Bumi
Khatulistiwa. Mendongeng untuk anak-anak ABG menurut saya tidak akan terlalu
efektif. Karena itu saya menggantinya dengan nonton film dan bedah film. Film
yang saya angkat berjudul “The Burning Seasons”. Film ini adalah biografi
seorang pemuda Argentina yang bernama Francisco Alves Mendes Filho atau yang
dikenal sebagai Chico Mendes dia adalah seorang aktifis lingkungan yang
berjuang untuk menghentikan pembalakan hutan di kawasan hutan tropis amazon.
Idealismenya untuk memperjuangkan kepentingan lingkungan menjadi inspirasi saya
untuk membedah film ini kepada siswa SMU mengingat di usia ini ABG sedang
mencari jati diri dan melalui film ini saya ingin menggugah remaja untuk
melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masa depan, dan hal itu butuh
perjuangan. Dari film ini saya berusaha menganalogikan usaha Chico Mendes
dengan usaha yang dapat dilakukan oleh remaja Kalbar. Chico yang memperjuangkan
keutuhan hutan amazon dan pemuda Kalbar yang seharusnya juga mampu
mempertahankan hutan yang menjadi kebanggaan pulau Kalimantan ini.
Singkat cerita, serangkaian kegiatan inilah yang saya pertahankan
ketika disidang di hadapan para juri, mengingat pentingnya pendidikan
lingkungan hidup yang tidak cukup jika harus berbasis di sekolah. Meski bukan
barang baru, pendidikan lingkungan hidup harus terus menerus diberi inovasi,
karena setiap generasi mempunyai zamannya sendiri dan tantangan yang berbeda di
setiap zamannya. Kita harus sadar bahwa apa yang anak-anak akan hadapi dimasa
yang akan datang sangat bergantung dari apa yang kita lakukan sekarang. Jika
kita selama ini mengacuhkan lingkungan dimana kita tinggal sekarang, maka
jangan menyesal ketika di masa yang akan datang anak cucu kita tak lagi dapat
hidup dengan baik.
Ketika diinformasikan bahwa saya terpilih dalam 15 belas besar
finalis, saya bergabung dengan teman-teman lainnya se Indonesia dalam Eco Camp
selama 5 hari. Eco camp adalah serangkaian kegiatan untuk memfasilitasi kami
dalam hal pengembangan diri dan tentunya untuk menambah pengetahuan mengenai
lingkungan hidup. Para pakar lingkungan hadir dan menjadi pembicara dalam Eco
Camp. Kami juga dibangun kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi secara
personal. Kami berusaha menggali potensi masing-masing dalam segala bidang. Kegiatan
tidak hanya di ruangan tapi juga melakukan aktifitas lapangan untuk membangun
soliditas kelompok. Selain itu kami berkeliling di Muara Angke untuk melihat
lebih jelas bagaimana lingkungan hidup di Jakarta, menanam pohon di kawasan Eco
Park –cetak biru kawasan berwawasan lingkungan- yang dibangun oleh LIPI dan berkunjung
ke pabrik farmasi PT. Bayer.
Serangkaian kegiatan ini sangat berarti bagi saya selain karena ilmu
dan pengalamannya, saya mampu untuk mengeksplorasi potensi saya. Dalam Eco Camp
saya membuka semua indera saya lebar-lebar untuk menyerap pengetahuan dan
informasi dari teman-teman finalis. Saya bangga bisa berada diantara
putra-putri terbaik bangsa yang peduli terhadap lingkungan. Iming-iming hadiah
jalan-jalan ke Jerman tidak lagi menjadi tujuan saya, karena saya yakin apa
yang saya lakukan dan saya dapatkan dalam Eco Camp lebih berarti dari itu
semua. Di hari akhir Eco Camp para 15 besar finalis harus menyajikan
pertunjukkan khusus dalam awarding night atau malam penganuggerahan pemenang
Bayer Young Environmental Envoy 2007. Saya dipercaya untuk membuat dan menyampaikan
pesan lingkungan hidup melalui media pantun. Pantun yang dibuat harus berangkai
sesuai skenario yang ingin menggambarkan keadaan lingkungan hidup di Indonesia
yang terwakili kegiatan para finalis yang berasal dari daerah Sumatera Barat,
Jawa Barat, Jakarta, Kalimantan Barat, Jawa Timur dan Bali. Berikut sebagian
pantun yang saya sampaikan :
Jawa Barat Bandung kotanya
Tampan jakanya juga mojangnya
Bandung tak lagi Paris van Java
Jika Sampah numpuk dimana-mana
Kota Pahlawan Surabaya namanya
Pahlawan muda bernama Bung Tomo
Jika alam menunjukkan amarahnya
Muntahannya penuhi Sidoarjo
BYEE kali ini bertema
perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan. Isu perubahan iklim menjadi perhatian utama Bayer
seperti alokasi dana 1 juta euro untuk reduksi emisi gas rumah kaca dan
pembangunan gedung ramah lingkungan yang hemat energi. Selain itu, Bayer juga
memperkenalkan Bayer Climate Check yang berisi prosedur untuk memeriksa dan
mengevaluasi agar pengoperasian pabrik dapat mereduksi emisi rumah kaca, hemat
energi dan berkelanjutan.
Salah satu hal yang sangat menginspirasi dari perkembangan Bayer adalah
kemampuan mereka bangkit dari keterpurukan. Tahun 1945, fasilitas pabrik Bayer
hancur total akibat perang. Warga jerman banyak yang menjadi pengungsi
(bandingkan dengan Indonesia). Selanjutnya dengan kerja keras, sekitar
tahun 1960 industri berkembang dengan sangat pesat. Namun, dampak terhadap
lingkungan ternyata sangat mengkhawatirkan. Sungai Rhein yang mengalir melewati
beberapa negara berubah menjadi hitam. Disisi lain, langit disekitar Leverkusen
manjadi kelabu akibat emisi yang melewati batas.
Walaupun demikian, masyarakat industri dan pemerintak kota menetapkan
rencana secara berkelanjutan dalam rentang waktu 10 tahun. Tahun 1970 telah
dibangun instalasi pengolahan air dan landfill. Secara bertahap, teknologi
terus dikembangkan untuk mereduksi bahan-bahan berbahaya dari limbah pabrilk.
Dan saat ini, hasilnya dapat dirasakan oleh warga Leverkusen dan sekitarnya.
Sungai Rhein (disekelilingnya berbaris berbagai macam pabrik) bersih dari
sampah dan bau serta layak untuk diolah dan dikonsumsi sebagai air minum. Emisi
dari cerobong pabrik berwarna putih dengan kualitas gas buangan setengah dari
standar yang berlaku.
Selain itu, kami memiliki kesempatan untuk meninjau secara langsung sistem
manajemen lingkungan yang diterapkan di kota Leverkusen. Disini, upaya pengelolaan lingkungan dilakukan
oleh pihak swasta (AVEA, waste processing and disposal faccility) dengan
melibatkan masyarakat secara langsung. Warga umumnya
memilih membuang sampah secara langsung di tempat pembuangan akhir yang telah
dipilah menjadi 30 bagian. Di tempat ini, mudah kita temui warga yang berbondong-bondong membawa
sampah (kertas, barang elektronik, besi, daun-daunan) yang telah dipilah dengan
menggunakan mobil. Selanjutnya, mereka langsung membuang sampah tersebut pada
kontainer-kontainer yang tersedia sesuai dengan jenis sampahnya. Yang unik disini
adalah setiap sabtu, tempat pembuangan ini dibuka untuk umum. Jadi, warga
diperbolehkan untuk mengambil barang yang masih layak pakai (TV, Kulkas,
Karpet). Selain itu, warga juga dapat membuang sampah pada tong yang terdapat
di masing-masing rumah walaupun tentu saja dikenakan biaya yang lebih mahal.
Keseluruhan sistem ini tidak terbentuk dalam semalam, tapi membutuhkan upaya
bertahun-tahun untuk membenahi sistem dan meningkatkan kesadaran masyarakat.
Perjalanan saya selama plant visit Bayer tidak ubahnya seperti
kunjungan pabrik selama mahasiswa dulu. Bayer memiliki kawasan Industri yang
sangat besar. Kami berkesempatan mengunjungi pusat penelitian Bayer untuk Crop
Science dan Material Science, pabrik polimer untuk polikarbonat dan poliuretan,
Bayer plant service (EPC) serta waste plant seperti incinerator, landfill dan
wastewater treatment yang sudah sering saya tulis tapi belum pernah saya lihat
secara langsung. Intinya, sebagai seorang process engineer saya berkesempatan
untuk mengetahui seberapa maju penelitian mereka, seberapa canggih
alat-alat yang digunakan dan seberapa besar dana yang dialokasikan untuk
R&D.
Aktivitas selama BYEE 2007 juga menjadi semakin menarik dengan
kunjungan ke beberapa tempat wisata Jerman di kota Cologne seperti Dome, Sungai
Rhein, Coklat Museum, Restoran-Restoran Jerman ternama (hati-hati dengan
makanannya), Kota Tua serta stadion Bayer Leverkusen. Walaupun, sebenarnya
harga barang dan souvenir disini tergolong setinggi langit jika dikonversi ke
rupiah. Selain itu, ditambah dengan rasa makanan yang tidak berasa, air putih
yang bersoda dan suhu yang sangat dingiiiiiin (20C).
ebagai duta, kami juga memiliki kesempatan untuk menggelar pementasan
budaya sebagai akhir dari rangkaian acara BYEE 2007. Indonesia mempersembahkan
pakaian tradisional dari 4 daerah (Minang, Dayak, Sunda dan Bali) dengan
pementasan tari dayak, jaipong, tari modern serta poco-poco yang mengundang
decak kagum dan sambutan meriah dari kontingen negara lain. Selain itu kami
juga sukses memperkenalkan angklung dan batik sebagai budaya asli Indonesia
(perang budaya dengan Malaysia, he22). Akhirnya pengalaman yang tidak akan
terlupakan bagi saya adalah kesempatan untuk mengenal dan berinteraksi
dengan pemuda-pemuda dari Amerika Selatan, Kenya, Asia Timur dan negara2
tetangga kita. Walaupun beda budaya dan beda bahasa tapi semua memiliki misi
yang sama yaitu membuat bumi ini lebih hijau dan lebih nyaman untuk ditinggali
sekecil atau sebesar apapun kontribusi kita.

Comments
Post a Comment