Sawasdee kaa…



Ini adalah perjalanan saya yang kedua kalinya ke negeri gajah putih, sebagai delegasi Indonesia untuk 2nd Training and Workshop for Youth Leader on Social Development pada bulan Maret 2006 and Drugs Abuse Prevention dan 5th Asian Youth Congress di Oktober 2006. Saya pergi dengan teman-teman dari universitas yang berbeda, Dito dan Maman (Trisakti), Eva (UNJ) dan Shofwan (UI). Tak pernah terbayangkan akan mendapat kesempatan berkunjung ke negeri yang terkenal dengan seribu pagoda ini untuk kedua kalinya, mengunjungi tempat-tempat dengan pemandangan yang subhanallah indahnya serta dijamu dengan keramahan masyarakatnya. Karena itu saya ingin membagi cerita kepada pembaca semuanya.

Sawasdee kaasawasdee khap...
Sawasdee kaa (baca : sawaddikha) adalah ungkapan selamat datang (kalau dalam Islam seperti Assalamu’alaikum …) dalam bahasa Thailand yang diucapkan oleh perempuan, kalau laki-laki sawasdee khap (baca : sawaddikahp) dengan mengatupkan kedua tangan di depan dada dan sedikit menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan, terutama bagi orange yang lebih tua dan dihormati. Hampir setiap bertemu (dengan siapapun), masyarakat Thailand akan mengucapkan sawasdee kaa atau sawasdee khap ... begitulah keramahan masyarakat Thailand yang tercermin dalam keseharian mereka yang menarik bagi setiap turis (khususnya turis internasional) untuk datang ke sana.

Thailand dan Seragam Kuning



Svarnabumi International Airport, little world in one zone
Svarnabumi International Airport adalah airport yang berada di kota Bangkok, Ibu kota Thailand, meskipun terletak jauh dari kota, namun airport ini tidak kehilangan daya tariknya. Pemerintah Thailand sangat menghargai asset Negara mereka yang terbesar yaitu dari sector pariwisata, tidak mengherankan jika airport yang melayani penerbangan domestic maupun internasional ini dibangun dengan sangat mewah, megah dilengkapi dengan teknologi tinggi. Masuk ke dalam kompleks airport ini seperti masuk ke dalam kota kecil, ada rumah sakit, pemadam kebakaran, restoran dan kantor-kantor pemerintahan terkait seperti imigrasi di dalamnya. Bangunan inti dari airport ini layaknya sebuah kota kecil yang dipadati banyak orang. Semua orang dari berbagai bangsa berlalu-lalang, komunikasi dipermudah dengan banyaknya public telephone dan internet dapat diakses dengan mudah karena hampir setiap 50 meter ada public telephone yang langsung tersabung dengan jaringan internet dan dapat diakses dengan biaya 10 Bath (Rp.2500) per 10 menit. Bangunan 5 lantai ini sudah termasuk lounge atau hotel transit bagi penumpang yang akan melanjutkan penerbangan dan ratusan cafe serta toko yang menjual berbagai macam barang, dari cinderamata khas Thailand sampai dengan komputer.

Hua lumpong Train Station
Hua lumpong train station adalah nama stasiun kereta yang terletak di pusat kota Thailand. Meskipun terbilang stasiun tua, tapi tetap berteknologi tinggi, ada tiga big screen di dalam stasiun yang dipadati oleh lebih dari 200 orang setiap harinya ini. Memang tidak banyak kursi yang disediakan untuk menunggu perjalanan, sehingga calon penumpang harus menunggu dengan duduk lesehan di tengah-tengah stasiun yang luas. Pemandangan yang menarik, karena mereka tidak perlu khawatir dengan kebersihan. Stasiun kereta yang full ac ini sangat bersih.

Stasiun ini melayani perjalanan ke berbagai daerah di Thailand, baik dalam kota Bangkok, bagian utara Thailand, selatan, atau bahkan melintas Negara seperti ke Butterworth di Penang, Malaysia. Ada kebiasaan unik di stasiun Hua lumpong ini, yaitu setiap jam 8 pagi dan jam 6 sore akan diperdengarkan lagu kebangsaan Thailand. Semua orang, terutama masyarakat Thailand akan berhenti sejenak dari aktifitasnya kemudian berdiri menghadap gambar Sang Raja sebagai tanda penghormatan sampai

Ada beberapa kelas yang disediakan bagi penumpang, dari kelas 1 executive sampai dengan kelas 3 ekonomi. Perlu diperhatikan bahwa perbedaan kelas ini tidak berarti kelas 1 executif lebih cepat daripada kelas 3 ekonomi, karena dalam satu perjalanan kereta, terdiri dari gerbong yang berbeda, yang terdepan adalah gerbong kelas 1 eksekutif dan yang terakhir adalah gerbong kelas 3 ekonomi. Perbedaannya terletak pada fasilitas dan pelayanan, kelas 1 eksekutif hampir mirip dengan hotel mini, karena ada tempat tidur dan kamar mandinya, makanan diantar ke kamar, sedangkan kelas 3 ekonomi hampir sama seperti kereta ekonomi di Indonesia ke daerah Jawa. Jadi tidak heran, banyak orang yang memilih kelas 3 ekonomi terutama para bag packers.

Hal yang paling unik sekaligus menakjubkan adalah di kelas 3 ekonomi tidak ada orang yang berjejalan seperti di Indonesia, semua penumpang akan mendapat tempat duduk sesuai dengan nomor yang tertera di tiketnya, ada petugas khusus di setiap gerbong yang bertugas menjaga ketertiban penumpang serta menghitung kursi kosong yang bisa ditempati penumpang selanjutnya. Sebelum berangkat si kereta harus dicuci dan disikat dulu oleh petugasnya, bagian dalam kereta juga disapu dan dipel dan sampah-sampah dikumpulkan lebih dari 3 kali. Kebersihan menjadi hal yang sangat diperhatikan karena terkait dengan pelayanan Negara terhadap masyarakatnya terutama bagi para turis.


MRT
Metropolitan Rail Train adalah salah satu alat transportasi yang paling modern di Thailand. MRT merupakan kereta listrik bawah tanah pertama yang dimiliki oleh negara ini. Berkat kerjasama dengan Jepang dalam pembangunannya, sangat mendukung mobilitas masyarakat thailand selain menjadi salah satu fasilitas yang memanjakan turis. Sekali jalan dengan MRT kita harus mengeluarkan sebesar 40 Bath (sekitar Rp. 10.000) dengan kecepatan yang sesuai dengan harga. Dari stasiun Hua Lumpong ke stasiun terakhir (kalau di Indonesia seperti jalur Bogor – Bekasi) dapat dicapai dengan waktu kurang lebih satu jam. Jadwal yang sangat tepat waktu memungkinkan setiap orang dapat memprediksi ketepatannya sampai di tujuan.

Teknologi yang diterapkan pada MRT di Thailand ini berbeda dengan MRT di Malaysia. MRT Malaysia hanya bisa sekali jalan dari KLCC ke KLIA, dengan satu tiket tanpa berhenti di stasiun yang lain. Sedangkan MRT di Thailand berhenti di setiap stasiun pemberhentian dimana penumpang harus menunjukkan coin sensor di setiap pintu masuk dan pintu keluar. Bagi pelanggan MRT dapat menunjukkan kartu sensor yang juga berfungsi sebagai kartu identitas (sejenis KTP) dan rekening ATM.

Tuk-tuk
Ini dia kendaraan yang paling khas di negeri Thailand. Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan bajaj di Indonesia, tetapi tuk-tuk ini lebih besar dan terbuka. Tuk-tuk menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan asing, karena harganya yang ekonomis daripada naik taxi dapat ditawar harganya. Selain itu karena tuk-tuk adalah kendaraan terbuka, sehingga hawa panas kota Bangkok dapat dikalahkan dengan keindahan kota seribu pagodanya.

Chiang Mai dan
Chiang Mai adalah salah satu kota di utara Thailand. Kota yang terkenal sebagai pusat agama Buddha di Thailand. Topografi daerah yang pegunungan membuat hawa di daerah ini tidak berbeda jauh dengan daerah puncak.

Chiang Rai
Chiang Rai adalah satu kota yang terletak paling utara Thailand, dan berbatasan langsung dengan Laos dan Myanmar yang hanya terpisah oleh Sungai Mekhong. Chiang Rai terkenal dengan Golden Triangle yang merupakan pusat produksi Opium terbesar di dunia selain wilayah Golden Cresent (Bulan Sabit Emas) di daerah Asia barat dan asia timur.

Golden Triangle View Point


Doitung Highland Development Project
Doitung Highland Development Project adalah proyek pemerintah yang dirancang khusus untuk pembangunan daerah utara Thailand yang terkenal sebagai daerah penghasil opium di dunia. Doitung Highland Development Project terdiri atas beberapa bagian antara lain Mae Fah Luang Garden, Industrial and Handicraft complex
            Mae Fah Luang Garden
Mae Fah Luang Garden merupakan taman yang dibangun selain sebagai objek pariwisata sekaligus pusat penelitian, pengembangan dan budidaya tanaman anggrek, yang merupakan bunga kebangsaan Negara Thailand. Terletak di puncak Chiang Rai, sehingga hawa sejuk segar dan bersih sangat tersedia di sini, selain pemandangan yang sangat indah. Setiap sudut dari Mae Fah Luang Garden pantas dijadikan background untuk mengambil gambar. Sekali berada di Mae Fah Luang Garden seakan tidak ingin beranjak pergi, tempatnya yang tenang dan indah membuat hati betah untuk berada di dalamnya. Pusat budidaya anggrek tidak berarti tanaman yang ada di taman ini semuanya adalah anggrek, ada juga jenis tanaman yang lain seperti rose, jasmine, lavender dan ratusan spesies tanaman yang semakin menambah keindahan taman ini. Letak taman ini tidak jauh dari tempat peristirahatan kerajaan, dan kita boleh masuk ke dalamnya dan melihat apa saja isi rumah peristirahatan kerajaan. Rumah dengan konstruksi kayu yang kuat memberikan kesan hangat pada rumah peristirahatan ini. Tapi jangan salah, desain yang memadukan aspek tradisional dengan futuristik ini membuat rumah ini menjadi sangat pantas sebagai rumah peristirahatan bagi keluarga kerajaan. Jika malam hari, kita bisa melihat rasi bintang di langit langsung dari ruang tengah rumah yang merupakan ruang keluarga kerajaan, seru kan... Satu hal lagi, karena letaknya yang tinggi, dari balkon rumah kita dapat melihat negara lain lho, seperti Laos dan Myanmar dan serasa berdiri diatas awan yang berada di sekitar kaki dan disapa embun yang perlahan menyentuh pori-pori...

Di Doitung Highland Development Project terdapat museum Ibu Suri Kerajaan Thailand, mengenai perjalanan hidupnya dari kecil hingga akhir hidupnya dan dedikasi yang diberikannya kepada rakyat Thailand. Masyarakat Thailand. Kesederhanaan dan ketulusannya menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat Thailand. Semua dikemas dalam museum yang berada di puncak bukit ini.

            Industrial
            Menurut cerita yang diperoleh dari masyarakat setempat, penduduk Chiang Rai pada awalnya adalah petani opium, mereka bercocok tanam opium tanpa mengetahui dampak dari penyalahgunaan opium itu sendiri, karena kurangnya informasi mengenai opium dan rendahnya pendidikan masyarakat setempat. Kemudian kerajaan Thailand mengambil langkah untuk memperbaiki kondisi masyarakat asli Chiang Rai dengan membakar seluruh ladang opium dan digantikan dengan ladang kacang Macademia. Masyarakat diberikan pelatihan bercocok tanam dan teknologi pertanian kacang Macademia. Kacang Macademia diolah dalam satu pabrik yang menghasilkan beberapa produk sekaligus yaitu biskuit kacang, roti kacang, selai kacang, dan kacang olahan yang siap dimakan. Bagi para perempuan dibeikan keterampilan seperti keterampilan menyulam benang sehingga menjadi pashmina, atau industri kertas daur ulang yang lebih dari sekedar kertas daur ulang biasa, karena menggunakan daun-daunan dan bunga-bunga yang diperoleh dari alam sebagai aksesoris pemanisnya. Hingga sekaran kacang macademia, industri garmen dan kertas daur ulang merupakan komoditi ekspor Thailand.

Hall of Opium

The Hall of Opium adalah sebuah musium yang menggambarkan mengenai sejarah Opium yang banyak terdapat di Thailand. Sebagai salah satu dari negara The Golden Triangle, Thailand di salah satu provinsinya yaitu Chiang Rai kemudian membangun musium ini yang terdiri dari 3 lantai dan dibangun di lahan yang sangat luas, karena di sekitar musium terdapat lounge atau hotel tempat kami menginap. Terdapat banyak bagian di setiap lantai, mulai dari entrance tunnel yang menggambarkan relief mengenai orang yang telah kecanduan dan dampak-dampaknya, sejarah drugs dari ancient time sampai dengan sekarang, membedah narkotika dan obat-obat terlarang dari berbagai sisi, seperti sejarah, kesehatan, ekonomi, social, politik, kejahatan dan lain-lain di lingkup global dan lebih khusus lagi di Thailand. Ada ruangan khusus yang menjelaskan  mengenai Perang Candu di Cina, peredaran Opium dalam setiap pemerintahan Thailand, alat-alat yang biasa digunakan untuk memakai opium, pembuatan opium, cara memakai, tempat-tempat yang biasa digunakan untuk menyelundupkan opium, sampai dengan berbagai regulasi dan perjanjian antar negara untuk memberantas peredaran narkotika (Colombo Plan).

Uniknya Hall of Opium berada dalam sebuah bukit, sehingga pemandangan ketika memasuki gedung ini berbeda dengan pemandangan ketika keluar. Museum ini sangat menarik karena dapat mendeskripsikan dengan baik dan menarik mengenai sejarah Opium secara umum, khususnya di Thailand. Misalnya ketika memasuki sesi peredaran narkoba dari Eropa melalui perdagangan, kita seperti berada di geladak kapal lengkap dengan karung-karung dan isi kapal dagang dan pemandangan pelabuhan pada saat itu, demikian pula ketika memasuki sesi perang candu, suasana seperti berada di benteng Cina. Penggunaan multi media dengan teknologi tinggi semakin mendekatkan pengunjung kepada penjelasan mengenai seluk beluk narkoba. Screen tidak hanya terletak di depan anda, tapi juga bisa berada di bawah kaki anda, jadi tidak perlu mendongak keatas, cukup melihat apa yang ada di dekat anda. Ada juga simulasi penjara tepat dibawah kaki, yang menggambarkan betapa tidak enaknya berhubungan dengan barang haram tersebut. Desain yang futuristic melengkapi segala kelebihan dari hal of opium ini.

Perjalanan pun berakhir di sebuah ruangan yang bernama Hall of Reflection, di ruangan ini ditujukan sebagai ajang refleksi bagi semua pengunjung setelah memasuki hall of opium. Musik terapi yang menenangkan dan pemandangan alam yang indah menggiring kita untuk berfikir kembali mengenai dampak drugs bagi pribadi, keluarga dan terutama terutama Negara. di hall of reflection ini dicantumkan quotation atau kata-kata mutiara yang penuh makna dari berbagai agama, seperti Islam, Kristen, Budha, Tao, Yahudi, dan kata-kata penggugah dari orang-orang terkenal seperti Napoleon dan lain-lain, salah satunya mencantumkan AlBaqarah ayat 136 yang memerintahkan ummat manusia untuk memakan makanan dan minuman yang halalan thoyyiban. 


akan dilanjutkan ke sub thema 
>Night Market
>Muslim Thailand

Comments

Popular Posts