Generasi Muda = Generasi Hijau
Here the
world
Make it
better place
For you and
for me and the end of human raised
There are
people dying
If you care
enough for the living
Make it
better place
For you and
for me
(Michael
Jackson)
Lirik lagu diatas menjadi pembuka dalam tulisan ini.
Berangkat dari keinginan untuk menciptakan “a better place” maka dalam
tulisan ini akan dipaparkan mengenai kondisi lingkungan hidup kita dan bagaimana
peran generasi muda dalam setiap aspek kehidupan dalam usaha memperbaiki
lingkungan tanpa menghilangkan ”gejolak kawula muda”.
Isu mengenai kerusakan lingkungan maupun dampaknya
nyaris setiap hari mengetuk pintu indra kita. Namun demikian isu ini rasanya
masih terasa “jauh” meski tak dapat dikatakan asing. Isu lingkungan hidup
rasanya hanya milik para pengamat lingkungan yang meneriakkan keadilan
lingkungan secara global. Krisis
ekologi, krisis bumi, dan krisis kemanusiaan berlangsung seolah tak berujung.
Bencana alam pada daerah tertentu berakibat pada alam seluruhnya. Permasalahan
ekologi global tidak bisa diperkirakan dari sudut negara tertentu. Dunia tidak
dapat dikelola melalui proyek-proyek administrasi dan pengawasan terpusat yang
konvensional yang seakan hanya menjadi urusan para politikus dunia. Padahal
jika kita lebih cermat, sebenarnya isu pemanasan global sangat dekat di dalam
keseharian kita, bahkan berada di halaman rumah kita. Bersentuhan langsung
dengan manusia, terlebih lagi dengan generasi muda, sebagai individu yang notebene
akan lebih lama lagi berada di bumi.
Isu lingkungan hidup mungkin
dapat diibaratkan seperti pasang surut air laut, kadang isu lingkungan menjadi
ramai dibicarakan, kemudian surut seiring terangkatnya isu-isu lain seperti
politik, ekonomi yang lebih diperhatikan orang-orang.
Perkembangan peradaban memang
dimulai dari dominasi alam terhadap manusia, dimana jumlah manusia lebih
sedikit daripada luas wilayah alam yang tersedia. Sehingga cara manusia
mengelola sumber daya alam dalam usaha memenuhi kebutuhan berlangsung tanpa
merusak lingkungan, mengingat daya lenting (pemulihan secara alami) lingkungan
yang tinggi. Namun pertumbuhan manusia yang sesuai dengan deret ukur tidak
dibarengi dengan pemulihan lingkungan yang deret hitung, dominasi manusia
terhadap alam terjadi dengan adanya eksploitasi besar-besaran terhadap SDA yang
tidak seimbang dengan pemulihan kembali.
Para ilmuwan telah menunjukkan
dengan penelitian intensif bahwa planet bumi telah terancam. Selain akibat
perubahan iklim dan kehilangan habitat dan ekspansi yang dilakukan oleh
manusia, kepunahan spesies semakin tinggi. Sedikitnya ada 15 spesies telah
punah dalam 20 tahun terakhir, 12 spesies dapat bertahan hidup karena
diperlihara atau ditangkarkan oleh manusia. Namun, diyakini bahwa sebenarnya
spesies yang mengalami kepunahan jumlahnya jauh lebih besar. Lebih dari
itu menurut penelitian Global Species Assessment (GSA) dalam Siaran Pers
bulan November 2004, sekitar 15.589 spesies yang terdiri dari 7.266
spesies satwa dan 8.323 spesies tumbuhan dan lumut kerak, diperkirakan berada
dalam resiko kepunahan.[i]
Para ilmuan menggunakan model
komputer dari temperatur, pola presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk
mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model tersebut, para ilmuan telah
membuat beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global terhadap cuaca, tinggi permukaan
air laut, pantai, pertanian, kehidupan hewan
liar dan kesehatan manusia.
Selama
pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara akan memanas
lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair
dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan
Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin
tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang
ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam
akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin
dan malam hari akan cenderung untuk meningkat. Hasil pengukuran yang dilakukan National
Centre for Scientific Research (CNRS) yang berbasis di Paris, Perancis
menunjukkan sepanjang dua tahun terakhir, wilayah Arktik di Kutub Utara
kehilangan lapisan es seluas dua kali wilayah Prancis atau sepuluh kali luas
Pulau Jawa. Pada pengukuran yang dilakukan pada September 2007, lapisan es di
Arktik hanya seluas 4,13km2 atau turun dari 5,3km2 dari
setahun sebelumnya. Artinya, lapisan es yang hilang mencapai 1,17 km2.
Luas Pulau Jawa sendiri sekitar 130.000 km2.[ii]
Daerah hangat akan menjadi
lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Kelembaban yang
tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1% untuk setiap
derajat Fahrenheit pemanasan. Badai
akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah.
Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan
bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai yang
memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan
dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan
terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.
Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan
yang stabil secara geologi. Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan
lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan
tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub,
terutama sekitar Greenland,
yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia
telah meningkat 10-25cm selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi
peningkatan lebih lanjut 9-88cm pada abad ke-21. Perubahan tinggi muka laut akan sangat
mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100cm akan menenggelamkan 6% daerah
Belanda, 17,5% daerah Bangladesh, dan banyak
pulau-pulau. Erosi dari
tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai
muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara
kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah
pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan
evakuasi dari daerah pantai. Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan
sangat mempengaruhi ekosistem pantai. Kenaikan 50cm akan menenggelamkan separuh
dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Kenaikan muka laut ini akan menutupi sebagian
besar dari Florida
Everglades.
Perubahan
iklim disamping telah dirasakan dengan adanya penambahan curah hujan 2-3%
setiap tahun, juga membawa dampak, misalnya dengan meningkatknya tinggi
permukaan laut di teluk Jakarta sebanyak 0.57 cm per tahun. Peristiwa ini telah
terbukti, ketika pasang naik, beberapa kawasan di telak Jakarta Utara, mulai
terendam. Diperkirakan, tahun 2050, kawasan padat penduduk di Jakarta Utara
(Cilincing, Koja, Tanjung Priok dan Penjaringan) akan tenggelam. Di samping
itu, perubahan iklim ini juga akan berdampak terdahap produktifitas lahan
akibat sebagian pinggir pantai terendam, yang berdampak pada penurunan 95%
kemampuan lokal dalam produksi padi (Purnomo, 2007).[iii]
Hewan dan tumbuhan menjadi
makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian
besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung
untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah
arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi,
pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang
bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau
lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu
secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah, demikian pula
dengan spesies tumbuhan. Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan
menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya
tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari
lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering
di beberapa bagian Afrika
mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi
dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan
salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan
mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan
serangga dan penyakit yang lebih hebat. Ancaman
terhadap keamanan pangan sebagai akibat perubahan iklim pada bidang pertanian.
Naiknya permukaan air laut - ini akan menggenangi daerah produktif pantai,
mempengaruhi pertanian dan penghidupan pantai, termasuk pertambakan ikan dan
udang, produksi padi dan jagung. air laut bertambah hangat - mempengaruhi
keaneka ragaman hayati kelautan dan memberi tekanan lebih pada terumbu karang
yang sudah terancam
Di dunia yang hangat, para
ilmuan memprediksi bahwa lebih banyak orang yang terkena penyakit atau
meninggal karena stress panas dan merebaknya penyakit yang berkembang biak
lewat air dan vektor - seperti malaria dan demam berdarah. Wabah penyakit yang
biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa
penyakit lainnya, akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah
yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Saat ini, 45% penduduk dunia
tinggal di daerah di mana mereka dapat tergigit oleh nyamuk pembawa parasit malaria; persentase itu
akan meningkat menjadi 60% jika temperature meningkat. Penyakit-penyakit tropis
lainnya juga dapat menyebar seperti malaria, seperti demam dengue, demam kuning, dan encephalitis. Para ilmuan
juga memprediksi meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat
akan memperbanyak polutan, spora
mold dan serbuk sari.[iv]
Dalam kitab suci Al-Quran
(tanpa mengecilkan kitab suci agama lainnya) disebutkan “Telah nampak
kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia”
(Ar-Rum : 41). Maka, tak ada yang lain yang bisa dimintai pertanggungjawaban (jika
tidak ingin disalahkan) atas kerusakan bumi selain manusia yang bertugas
sebagai khalifah di muka bumi. Sungguh mengerikan jika kita membayangkan apa
yang terjadi pada bumi dan isinya jika kita tidak mulai bertindak. Lingkungan
hidup merupakan milik bersama, masa depannya adalah masa depan bersama. Ingat,
Bumi ini hanya satu, tapi dimiliki oleh semua manusia, apa yang akan terjadi di
bumi akan berimbas pada manusia itu sendiri.
Krisis lingkungan hidup yang
kita hadapi saat ini sebenarnya bersumber pada kesalahan pemahaman manusia,
yang berbasis pada cara pandang antroposentris yang menempatkan manusia sebagai
pusat dari alam semesta, sementara alam seisinya hanyalah alat bagi pemuasan
kepentingan mereka, sehingga mereka dapat melakukan apa saja terhadap alam demi
pemenuhan segala kebutuhannya. Kesalahan cara pandang tersebut menyebabkan
kekeliruan manusia dalam menempatkan diri ketika berperilaku di dalam
ekosistemnya. Akibat dari kekeliruan tersebut telah menyebabkan krisis
lingkungan yang berkepanjangan, dan menimbulkan berbagai bencana lingkungan
hidup yang akan mengancam kehidupan manusia itu sendiri.
Masalah lingkungan hidup
adalah masalah moral, dan hal itu berkaitan erat dengan kebiasaan manusia. Dengan
demikian krisis ekologi global yang kita alami dewasa ini adalah persoalan
moral, krisis moral secara global. Sikap dan perilaku yang arif terhadap
lingkungan oleh Chiras disebutnya sebagai mentalitas berwawasan lingkungan dan
berkelanjutan. Substansi mentalitas berwawasan lingkungan memuat paling tidak
empat hal penting: (1) adanya kesadaran bahwa alam mempunyai daya dukung yang
terbatas; (2) penggunaan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui akan
berakibat kepada kehabisan sumber daya tersebut, tetapi kegiatan daur ulang
clan menggunakan sumber daya alternatif sebagai usaha menghemat sumber daya
tersebut; (3) kualitas hidup tidak diukur dari banyaknya materi yang dipunyai;
dan (4) menanamkan sikap berorientasi kepada generasi mendatang untuk tidak
mewariskan bencana.
Oleh karena itu perlu etika
dan moralitas untuk mengatasinya. Penanaman nilai moral tidak dapat dilakukan
secara mendadak, tetapi harus mengikuti perjalanan hidup manusia, mulai dari generasi
muda hingga orang-orang tua. Dengan demikian sangatlah strategis jika pembekalan
pengetahuan dasar tentang lingkungan hidup sejak dini melalui anak-anak secara
terprogram dan berkelanjutan, hingga pada saatnya akan tercipta insan-insan
pribadi bangsa yang utuh.
Generasi Muda = Generasi Hijau
Pemuda adalah agent of
change, agen perubahan. Generasi
muda adalah penentu perjalanan bangsa di masa berikutnya. Jika kita melihat
sejarah baik nasional maupun internasional, maka pemudalah yang menjadi pioniir
dalam setiap pergerakan sosial politik. Pemuda mempunyai kelebihan dalam
pemikiran ilmiah, selain semangat mudanya, sifat kritisnya, dan kematangan
logikanya. Pemuda adalah motor penggerak utama perubahan. Pemuda diakui
perannya sebagai kekuatan pendobrak kebekuan di masyarakat. Maka tak berlebihan
kiranya jika presiden pertama Indonesia mengatakan. “Berikan aku 10 orang
pemuda, maka akan kugetarkan dunia…”.
Kiprah pemuda telah terukir
indah dalam tinta emas sejarah. Mereka merupakan tonggak dan potensi besar
suatu kehidupan. Secara fitrah, masa muda merupakan jenjang kehidupan manusia
yang paling optimal. Dengan kematangan jasmani, perasaan dan akalnya, sangat
wajar jika generasi muda memiliki potensi yang besar dibandingkan dengan
kelompok masyarakat lainya. Tongkat estafet peralihan suatu peradaban terletak
di pundak mereka. Posisi mereka yang strategis sebagai generasi muda memang
menjadi peluang untuk mengembangkan potensi sebesar-besarnya untuk dikerahkan
dalam pembangunan bangsa, termasuk dalam pelestarian lingkungan hidup. Secara
kuantitatif, jumlah pemuda Indonesia hampir mencapai 40% dari sekitar 200 juta
jiwa penduduk negeri ini. Secara kualitatif, pemuda pun memiliki kapasitas
memadai untuk tugas-tugas kepeloporan. Kepekaan yang tinggi dan pemikiran
kritis mereka mengenai lingkungan dan permasalahannya sangat diharapkan untuk
menciptakan kualitas lingkungan yang lebih baik.
Pemuda adalah bagian dari
lingkungan. Namun, apakah pemuda sadar dengan keberadaannya di dalam
lingkungan? Wahai pemuda, sebaiknya kalian sadar bahwa kalian adalah korban
dari kejahatan pendahulu kalian yang mendominasi alam tanpa bertanggung jawab
secara penuh untuk memperbaikinya kembali. Cobalah untuk mencermati segala
perubahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya, fenomena deret ukur
pertambahan manusia dan eksploitasi terhadap lingkungan dan memperhatikan
dengan seksama mengapa terjadi bencana lingkungan yang sebagian besar adalah
akibat dari kerusakan lingkungan oleh manusia. Bagaimana dengan proses belajar yang
terganggu akibat tebalnya kabut asap, atau banjir yang menggenangi sekolah dan
kualitas kesehatan yang memburuk karena lingkungan yang rusak. Silahkan
bertanya pada orang tua kalian apakah mereka pernah merasakan memakai masker
ketika berangkat sekolah dulu? Atau libur sekolah akibat banjir menggenangi
rumah dan sekolah atau tidak bisa bermain di luar rumah karena tebalnya kabut
asap.
Mari melihat penanganan isu
lingkungan sepanjang perjalanan ini. Tidak disadari sebagian dari kita telah
mengalami kehilangan rasa tanggung jawab moral untuk merawat bumi yang nota
bene satu-satunya planet ciptaan Tuhan yang khusus disediakan untuk tempat hidup
manusia. Sikap masyarakat Sikap masyarakat yang kontraproduktif diikuti dengan
regulasi pemerintah berupa perizinan yang kemudian melahirkan sikap eksploitasi
bumi demi keuntungan pribadi dan kelompoknya. Kebijakan dan peraturan terus
menerus dikeluarkan, tapi tetap tidak ada penanganan yang tegas terhadap
pelanggaran yang terjadi. Kesepakatan-kesepakatan dengan level lokal, nasional,
regional bahkan global terus ditandatangani, namun implementasi hanya sekedar
diatas kertas.
Dimana pemuda yang merupakan
agen perubahan? Apa isu lingkungan tidak begitu penting untuk diangkat ke
permukaan? Tidak lebih menarik dibanding isu politik dan kekuasaan atau
hedonisme yang mulai mengurat saraf? Atau jangan-jangan para pemuda
perlahan-lahan menjadi pelaku perusakan lingkungan itu sendiri? Apa perlu
diikrarkan kembali sumpah pemuda III agar pemuda bersemangat untuk melestarikan
lingkungan? Jadilah generasi muda yang merupakan generasi hijau. Hijau yang
tidak sekedar karena usia, tapi generasi yang mengutamakan penyelamatan
lingkungan untuk ”a better place”, masa depan yang lebih baik. Bumi ini
butuh penyegaran, ide baru dalam penyelamatan lingkungan, dan hanya generasi
muda dengan segala gairah kreatifitas dan gejolak muda yang mampu menghijaukan
bumi.
Upaya penyelamatan lingkungan
bukanlah suatu yang instan. Tidak sekedar mendaurulang kaleng-kaleng bekas
sehingga semua masalah sepertinya bisa selesai dalam satu malam. Ia merupakan
suatu proses yang harus berkelanjutan dan berkesinambungan antar generasi.
Karena itu diperlukan transfer informasi secara terus menerus, eksplorasi bakat
dan potensi generasi muda sesuai zamannya dan disalurkan untuk upaya menyelamatkan
lingkungan. Kumpulkan segala informasi terkait dengan lingkungan dan
permasalahannya, temukan solusinya dengan ”gaya muda” dan aplikasikan dalam
kehidupan sehari-hari. Bentuk atau bergabunglah secara aktit dengan
komunitas-komunitas yang pro lingkungan hidup, karena memang upaya penyelamatan
lingkungan berawal dari masing-masing individu, tetapi kemanfaatan dapat
dirasakan lebih luas jika dilakukan secara bersama-sama, karena bumi memang
milik kita bersama.
Dengan semangat khas kaum muda,
ciptakan inovasi-inovasi baru melalui ide dan kreatifitas, karena memang generasi
muda yang mampu melakukan itu. Salah satunya dengan merubah gaya hidup yang
konsumtif dan eksploitatif menjadi gaya hidup yang ramah lingkungan. Jadikan
gaya hidup ramah dan cinta lingkungan sebagai bagian daripada pergaulan remaja,
menjadi ”trade mark” tersendiri bagi anak gaul. Tidak perlu malu untuk
menggunakan sepeda, memakai produk daur ulang atau sekedar membuang sampah pada
tempatnya.
Lingkungan pasti terkait
dengan semua aspek kehidupan manusia, jadi tidak ada halangan untuk tidak
melakukan sesuatu untuk lingkungan. Bagi yang senang berpolitik, berpolitiklah
yang hijau, memihak pada kepentingan manusia yang paling krusial, yaitu
lingkungan. Bagi para penggila ekonomi, jangan jual lingkungan hanya untuk
keuntungan satu generasi saja. Bagi yang gandrung dengan teknologi, ciptakan
teknologi yang tidak hanya memberi kemudahan bagi manusia tetapi juga ramah
lingkungan. Bagi yang cinta seni, ekspresikanlah keprihatinan tentang kondisi
bumi ini.
Generasi muda menjadi aset
pembangunan masa depan yang harus diprioritaskan. Membekali mereka tentang
etika lingkungan yang penting untuk membangun moral agar bijaksana dalam
memperlakukan lingkungan. Salah satunya melalui pendidikan lingkungan, agar
sejak dini mereka paham akan hubungannya dengan lingkungan hidupnya,
menciptakan harmonisasi antara manusia dengan alamnya, sehingga di alam tidak
akan muncul kekhawatiran terhadap bencana yang akan melanda. Pendidikan
lingkungan dapat dilakukan lewat jalur pendidikan formal dan informal. Tidak
harus seorang ekolog atau ilmuwan yang menyampaikan, melainkan cukup seseorang
yang mampu menjadi pemandu dalam berpikir tentang lingkungan yang ada di
sekitarnya dan mempunyai semangat dalam menemukan hubungan yang ada dalam
ekosistem kita. Orang yang mampu menjabarkan kompleksitas permasalahan
lingkungan dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dimengerti.
Penyelenggaraan pendidikan lingkungan
dapat bersifat outdoor education (pendidikan di luar kelas), yang
dilakukan dengan mengajak siswa untuk menyatu dengan alam dan melakukan
beberapa aktivitas yang mengarah pada terwujudnya perubahan perilaku siswa
terhadap lingkungan melalui tahap-tahap penyadaran, pengertian, perhatian,
tanggungjawab dan aksi atau tingkah laku. Outdoor tidak berarti sekedar
memindahkan pelajaran ke luar kelas, melainkan lebih pada pemanfaatan potensi
lingkungan yang ada sebagai obyek dalam materi yang disampaikan. Bisa berupa
permainan, cerita (dongeng), olahraga, eksperimen, perlombaan, mengenal
kasus-kasus lingkungan dan diskusi penggalian solusi, aksi lingkungan, dan
jelajah lingkungan. Generasi muda dibimbing untuk menemukan sendiri maksud yang
terkandung di dalamnya, sehingga bisa lebih mengena dan lebih mudah diingat.
Wahai pemuda, pekakan hati terhadap
lingkungan dan arahkan perilaku kita pada etika lingkungan yang benar. Agar
kelak Indonesia lestari kembali dengan berjuta kekayaan alamnya yang luar biasa
indahnya. Agar bumi kembali pulih dan masih layak untuk ditinggali. Tumbuhkan rasa
optimis bahwa kerusakan lingkungan hidup akan dapat diatasi.
Lingkungan Hidup bukanlah
sekedar lingkungan yang ditempati untuk hidup, tapi Lingkungan Hidup adalah
lingkungan yang mampu memberikan kehidupan, bukan hanya untuk kita sekarang
tetapi juga untuk anak cucu dan generasi selanjutnya. Tanpa dimulai dari diri sendiri,
mustahil lingkungan yang memberikan kehidupan itu tercipta.

Comments
Post a Comment